Mobilisasi Dini Pada Ibu Post SC
A.
Pengertian
·
Mobilisasi
adalah suatu pergerakan dan posisi yang akan melakukan suatu aktivitas /
kegiatan.
·
Mobilisasi ibu
post partum adalah suatu pergerakan, posisi atau adanya kegiatan yang dilakukan
ibu setelah beberapa jam melahirkan dengan persalinan Caesar.
B.
Tujuan
Mobilisasi
·
Membantu
jalannya penyembuhan penderita / ibu yang sudah melahirkan.
·
Untuk
menghindari terjadinya infeksi pada bekas luka sayatan setelah operasi seksio
sesaria,
·
Mengurangi
resiko terjadinya konstipasi,
·
Mengurangi
terjadinya dekubitus, kekakuan atau penegangan otot – otot di seluruh tubuh,
·
Mengatasi
terjadinya gangguan sirkulasi darah, pernafasan, peristaltik maupun berkemih
(Carpenito, 2000).
(Carpenito, 2000).
C.
Manfaat
Mobilisasi
·
Penderita merasa
lebih sehat dan kuat dengan early ambulation.
ü Dengan bergerak, otot –otot perut dan panggul akan
kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi
rasa sakit dengan demikian ibu merasa sehat dan membantu memperoleh kekuatan,
mempercepat kesembuhan.
ü Faal usus dan
kandung kencing lebih baik.
ü Dengan bergerak akan merangsang peristaltic usus
kembali normal.
ü Aktifitas ini juga membantu mempercepat organ-organ
tubuh bekerja seperti semula.
·
Mobilisasi dini
memungkinkan kita mengajarkan segera untuk ibu merawat anaknya. Perubahan yang
terjadi pada ibu pasca operasi akan cepat pulih misalnya kontraksi uterus,
dengan demikian ibu akan cepat merasa sehat dan bisa merawat anaknya dengan
cepat.
·
Mencegah terjadinya
trombosis dan tromboemboli. Dengan mobilisasi sirkulasi darah normal/lancar
sehingga resiko terjadinya trombosis dan tromboemboli dapat dihindarkan.
D.
Kerugian Bila Tidak
Melakukan Mobilisasi.
·
Peningkatan suhu
tubuh, Karena adanya involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak
dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi
adalah peningkatan suhu tubuh.
·
Perdarahan yang
abnormal, Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus
uteri keras, maka resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan, karena
kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka
·
Involusi uterus
yang tidak baik, Tidak dilakukan mobilisasi secara dini akan menghambat
pengeluaran darah dan sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi
uterus.
E.
Rentang Gerak
Dalam Mobilisasi
Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
·
Rentang gerak
pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien
·
Rentang gerak
aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.
·
Rentang gerak
fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan.
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan.
·
Tahap-Tahap
Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini dilakukan secara bertahap (Kasdu,2003)
Mobilisasi dini dilakukan secara bertahap (Kasdu,2003)
Tahap- tahap mobilisasi dini pada ibu post operasi seksio sesarea :
ü Hari 1 – 4
a.
Membentuk
lingkaran dan meregangkan telapak kaki
Ibu berbaring di tempat tidur, kemudian bentuk gerak lingkaran dengan telapak kaki satu demi satu. Gerakan itu seperti sedang menggambar sebuah lingkaran dengan ibu jari kaki ibu ke satu arah, lalu ke arah lainnya.
Kemudian regangkan masing – masing telapak kaki dengan cara menarik jari – jari kaki ibu ke arah betis, lalu balikkan ujung telapak kaki ke arah sebaliknya sehingga ibu merasakan otot betisnya berkontraksi. Lakukan gerakan ini dua atau tiga kali sehari.
Ibu berbaring di tempat tidur, kemudian bentuk gerak lingkaran dengan telapak kaki satu demi satu. Gerakan itu seperti sedang menggambar sebuah lingkaran dengan ibu jari kaki ibu ke satu arah, lalu ke arah lainnya.
Kemudian regangkan masing – masing telapak kaki dengan cara menarik jari – jari kaki ibu ke arah betis, lalu balikkan ujung telapak kaki ke arah sebaliknya sehingga ibu merasakan otot betisnya berkontraksi. Lakukan gerakan ini dua atau tiga kali sehari.
b.
Bernafas dalam
Berbaring dan tekukkan kaki sedikit.
Tempatkan kedua tangan ibu di bagian dada atas dan tarik nafas. Arahkan nafas
itu ke arah tangan ibu, lalu tekanlah dada saat ibu menghembuskan nafas.
Kemudian tarik nafas sedikit lebih
dalam. Tempatkan kedua tangan di atas tulang rusuk, sehingga ibu dapat
merasakan paru – paru mengembang, lalu hembuskan nafas seperti sebelumnya.
Cobalah untuk bernafas lebih dalam
sehingga mencapai perut. Hal ini akan merangsang jaringan – jaringan di sekitar
bekas luka. Sangga insisi ibu dengan cara menempatkan kedua tangan secara
lembut di atas daerah tersebut. Kemudian, tarik dan hembuskan nafas yang lebih
dalam lagi beberapa kali. Ulangi sebanyak tiga atau empat kali.
c.
Duduk tegak
Tekuk lutut dan miring ke samping.
Putar kepala ibu dan gunakan tangan –
tangan ibu untuk membantu dirinya ke posisi duduk. Saat melakukan gerakan yang
pertama, luka akan tertarik dan terasa sangat tidak nyaman, namun teruslah
berusaha dengan bantuan lengan sampai ibu berhasil duduk. Pertahankan posisi itu
selama beberapa saat.
Kemudian, mulailah memindahkan berat
tubuh ke tangan , sehingga ibu dapat menggoyangkan pinggul ke arah belakang.
Duduk setegak mungkin dan tarik nafas dalam – dalam beberapa kali, luruskan
tulang punggung dengan cara mengangkat tulang-tulang rusuk. Gunakan tangan ibu
untuk menyangga insisi. Cobalah batuk 2 atau 3 kali.
d.
Bangkit dari
tempat tidur
Gerakkan tubuh ke posisi duduk. Kemudian
gerakkan kaki pelan – pelan ke sisi tempat tidur. Gunakan tangan ibu untuk mendorong
ke depan dan perlahan turunkan kedua telapak kaki ibu ke lantai.
Tekanlah sebuah bantal dengan ketat di
atas bekas luka ibu untuk menyangga. Kemudian, coba bagian atas tubuh ibu.
Cobalah meluruskan seluruh tubuh lalu luruskan kedua kaki ibu.
e.
Berdiri dan
meraih
Duduklah di bagian tepi tempat tidur, angkat tubuh hingga
berdiri. Pertimbangkanlah untuk mengontraksikan otot – otot
punggung agar dada mengembang dan meregang. Cobalah
untuk mengangkat tubuh, mulai dari pinggang perlahan – lahan,
melawan dorongan alamiah untuk membungkuk, lemaskan
tubuh ke depan selama satu menit.
Duduklah di bagian tepi tempat tidur, angkat tubuh hingga
berdiri. Pertimbangkanlah untuk mengontraksikan otot – otot
punggung agar dada mengembang dan meregang. Cobalah
untuk mengangkat tubuh, mulai dari pinggang perlahan – lahan,
melawan dorongan alamiah untuk membungkuk, lemaskan
tubuh ke depan selama satu menit.
f.
Berjalan
Dengan bantal tetap tertekan di atas bekas luka, berjalanlah ke depan. Saat berjalan usahakan kepala tetap tegak, bernafas lewat mulut. Teruslah berjalan selama beberapa menit sebelum kembali ke tempat tidur.
Dengan bantal tetap tertekan di atas bekas luka, berjalanlah ke depan. Saat berjalan usahakan kepala tetap tegak, bernafas lewat mulut. Teruslah berjalan selama beberapa menit sebelum kembali ke tempat tidur.
g.
Menarik perut
Berbaringlah di tempat tidur dan kontraksikan otot – otot dasar pelvis, dan cobalah untuk menarik perut. Perlahan – lahan letakkan kedua tangan di atas bekas luka dan berkonsentrasilah untuk menarik perut menjauhi tangan ibu. Lakukan 5 kali tarikan, dan lakukan 2 kali sehari.
Berbaringlah di tempat tidur dan kontraksikan otot – otot dasar pelvis, dan cobalah untuk menarik perut. Perlahan – lahan letakkan kedua tangan di atas bekas luka dan berkonsentrasilah untuk menarik perut menjauhi tangan ibu. Lakukan 5 kali tarikan, dan lakukan 2 kali sehari.
h.
Saat menyusui
Tarik perut sembari menyusui. Kontraksikan otot – otot perut selama beberapa detik lalu lemaskan. Lakukan 5 sampai 10 kali setiap kali ibu menyusui.
Tarik perut sembari menyusui. Kontraksikan otot – otot perut selama beberapa detik lalu lemaskan. Lakukan 5 sampai 10 kali setiap kali ibu menyusui.
i.
Pelaksanaan Mobilisasi
Dini
Hari ke 1 :
o Berbaring miring ke kanan dan ke kiri yang dapat
dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita / ibu sadar
o Latihan pernafasan dapat dilakukan ibu sambil tidur
terlentang sedini mungkin setelah sadar.
Hari
ke 2 :
o Ibu dapat duduk 5 menit dan minta untuk bernafas
dalam-dalam lalu menghembuskannya disertai batuk- batuk kecil yang gunanya
untuk melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri
ibu/penderita bahwa ia mulai pulih.
o Kemudian posisi tidur terlentang dirubah menjadi
setengah duduk
o Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari
penderita/ibu yang sudah melahirkan dianjurkanbelajar duduk selama sehari,
Hari ke 3 sampai 5
o Belajar berjalan kemudian berjalan sendiri pada hari
setelah operasi.
o Mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti
dengan istirahat dapat membantu penyembuhan ibu.
Mobilisasi dini pada ibu persalinan
spontan
A.
Pengertian
Pada persalinan normal yang kadang-kadang membutuhkan episiotomi (pengguntingan jalan lahir untuk membantu percepat persalinan), pemulihan biasanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Untuk membantu mengurangi rasa sakit selama pemulihan itu, ibu bisa melakukan beberapa gerakan yang berguna untuk memulihkan kondisi agar tubuh merasa segar kembali.
Pada persalinan normal yang kadang-kadang membutuhkan episiotomi (pengguntingan jalan lahir untuk membantu percepat persalinan), pemulihan biasanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Untuk membantu mengurangi rasa sakit selama pemulihan itu, ibu bisa melakukan beberapa gerakan yang berguna untuk memulihkan kondisi agar tubuh merasa segar kembali.
B.
Tujuan
Mobilisasi
Untuk sirkulasi, mobilisasi juga baik buat jahitan. Jika diperlukan akan dilakukan diatermi/pemanasan vagina agar sirkulasi darah di sekitar vagina jadi baik.
Untuk sirkulasi, mobilisasi juga baik buat jahitan. Jika diperlukan akan dilakukan diatermi/pemanasan vagina agar sirkulasi darah di sekitar vagina jadi baik.
1.
Posisi fowler
Tujuan :
• Mempertahankan kenyamanan
• Memfasilitas fungsi pernafasan
Tujuan :
• Mempertahankan kenyamanan
• Memfasilitas fungsi pernafasan
2.
Posisi SIM
Tujuan :
• Memberikan kenyamanan
• Melakukan hukna
• Memberikan obat per anus (supositorial)
• Melakukan pemeriksaan daerah anus
Tujuan :
• Memberikan kenyamanan
• Melakukan hukna
• Memberikan obat per anus (supositorial)
• Melakukan pemeriksaan daerah anus
3.
Posisi
trendelenburg
Tujuan :
• Memperlancar peredaran darahke otak
Tujuan :
• Memperlancar peredaran darahke otak
4.
Posisi Dorsal
Recumbent
Tujuan :
• Perawatan daerah genitalia
• Pemeriksaan genetalia
• Posisi pada proses persalinan
Tujuan :
• Perawatan daerah genitalia
• Pemeriksaan genetalia
• Posisi pada proses persalinan
5.
Posisi Litotomi
Tujuan :
• Pemeriksaan alat genetalia
• Proses persalinan
• Pemasangan alat kontrasepsi
Tujuan :
• Pemeriksaan alat genetalia
• Proses persalinan
• Pemasangan alat kontrasepsi
6.
Posisi Genu
Pektoral (Knee chest)
Tujuan :
• Pemeriksaan daerah rektum dan sigmoid
Tujuan :
• Pemeriksaan daerah rektum dan sigmoid
C.
Manfaat
Mobilisasi Bagi Ibu Post bersalin spontan
Walaupun tampaknya sederhana, namun gerakan-gerakan pemulihan banyak manfaatnya. Antara lain :
Walaupun tampaknya sederhana, namun gerakan-gerakan pemulihan banyak manfaatnya. Antara lain :
·
Memperbaiki
peredaran darah (terutama di kaki),
·
Menguatkan dan
merelaksasikan otot-otot perut, kaki dan punggung.
·
Latihan ini
mendorong kondisi ibu untuk cepat pulih sehingga dapat kembali beraktivitas
seperti biasa.
·
Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi
infeksi peurperium
·
Mempercepat
involusi alat kandungan
·
Melancarkan
fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
·
Meningkatkan
kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran
sisa metabolisme. (Manuaba, 1998)
D.
Kerugian Bila Tidak
Melakukan Mobilisasi
·
Gangguan
pernafasan yaitu sekret akan terakumulasi pada saluran pernafasan yang akan
berakibat klien sulit batuk dan mengalami gangguan bernafas.
·
Pada sistem
kardiovaskuler terjadi hipotensi ortostatik yang disebabkan oleh sistem syaraf
otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah sewaktu berdiri dari berbagai
dalam waktu yang lama.
·
Pada saluran
perkemihan yang mungkin terjadi adalah statis urin yang disebabkan karena
pasien pada posisi berbaring tidak dapat mengosongkan kandung kemih secara
sempurna.
·
Pada
gastrointestinal terjadi anoreksia diare atau konstipasi. Anoreksia disebabkan
oleh adanya gangguan katabolisme yang mengakibatkan ketidak seimbangan nitrogen
karena adanya kelemahan otot serta kemunduran reflek deteksi, maka pasien dapat
mengalami konstipasi.
E.
Rentang Gerak
Dalam Mobilisasi
F.
Tahap-Tahap
Mobilisasi Dini
Enam jam setelah melahirkan, ibu bisa melakukan gerakan-gerakan berikut:
Enam jam setelah melahirkan, ibu bisa melakukan gerakan-gerakan berikut:
·
Dalam keadaan
telentang, tekuk kedua kaki, pegangi perut dengan kedua tangan. Kerutkan
pantat, kempiskan perut (dengan menariknya ke arah dalam)
·
Dalam keadaan
telentang, luruskan kedua kaki. Gerakkan (cuma sebatas pergelangan kaki), ke
depan ke belakang, miring kanan dan kiri, putar.
·
Dalam keadaan
telentang, tekuk kedua kaki, telapak kaki menyentuh kasur, tangan di depan
dada, ambil napas, angkat badan dan kepala (mengangkat badan semampunya). Buang
napas, turunkan kembali.
·
Dalam keadaan
telentang, lakukan gerakan mengerutkan otot pantat, lepas, kerutkan kembali,
lepas, dan lakukan kontraksi otot-otot dasar panggul.
·
Dalam keadaan
telentang, tekuk kedua kaki, letakkan tangan di samping badan, angkat pantat
sedikit ke atas, gerakkan ke kanan dan ke kiri.
Posisikan tubuh miring saat berbaring di pinggir tempat tidur, angkat badan, duduk, ayun-ayunkan kaki beberapa menit ke kiri dan kanan lalu berdiri tegak. Lihat postur tubuh di kaca dan usahakan tubuh selalu tegak. - Untuk relaksasi, tidur tengkurap 2 kali sehari minimal 1,5 jam. Kalau perlu, bagian perut boleh diganjal bantal.
Tahap II (20 menit)
Posisikan tubuh miring saat berbaring di pinggir tempat tidur, angkat badan, duduk, ayun-ayunkan kaki beberapa menit ke kiri dan kanan lalu berdiri tegak. Lihat postur tubuh di kaca dan usahakan tubuh selalu tegak. - Untuk relaksasi, tidur tengkurap 2 kali sehari minimal 1,5 jam. Kalau perlu, bagian perut boleh diganjal bantal.
Tahap II (20 menit)
G.
Pelaksanaan
Mobilisasi Dini
Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah:
Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah:
·
Latihan
pernapasan dapat dilakukan dalam posisi terlentang
·
Kontraksikan
otot bokong Anda selama duduk
·
Ketika duduk,
pilih dasar kursi kuat yang tidak terlalu empuk (agar bisa menahan oto panggul
Anda)
·
Usahakan tidak
duduk atau berdiri terlalu lama
·
Lakukan latihan
kegel. Tidak perlu khawatir dengan jahitan di vagina, karena senam ini justru
menguatkan perineum (otot-otot di seputar vagina) dan mempercepat penyembuhan
di daerah di sekitarnya.
·
Minggu kedua
setelah melahirkan atau 1-2 hari kemudian, setelah badan lebih fit dari
sebelumnya, lakukan gerakan berikut:
o Dalam posisi telentang, ambil napas, tarik satu kaki
hingga menekuk sambil buang napas dari mulut, sementara kaki satunya tetap
lurus. Tekuk kaki yang lurus sambil ambil napas, dan luruskan kaki yang menekuk
sambil buang napas. Lakukan bergantian.
o Dalam posisi telentang, tekuk kedua kaki. Letakkan
tangan di samping badan. Ambil napas, angkat pantat ke atas hingga rata dengan
dada. Buang napas, sambil kembali ke posisi semula.
·
Minggu ketiga setelah
melahirkan, atau dua minggu setelah melahirkan, ibu bisa melakukan
gerakan-gerakan ini namun sebelumnya cek otot perut dahulu. Apakah sudah rapat
atau belum (dengan menekankan dua jari ke perut) atau konsultasikan gerakan ini
pada dokter sebelumnya.
o Saat BAK. Lakukan; tahan BAK, keluarkan, tahan
kembali. Lakukan hal ini setiap kali BAK sampai BAK selesai.
o Tidur telentang. Tekuk kedua kaki, angkat tangan,
ambil napas sambil julurkan tangan ke arah lutut hingga badan terangkat. Buang
napas, turun dan kembali ke posisi awal.
o Tidur telentang. Tekuk kedua kaki, ambil napas,
julurkan satu tangan kanan ke arah lutut kiri (tangan kiri di samping badan)
hingga badan bagian kanan terangkat, buang napas, kembali ke awal. Lakukan
gerakan yang sama untuk sisi sebelah kiri.
Minggu
keempat atau 15 hari setelah melahirkan, ibu bisa melakukan, Senam atau
olahraga apa saja untuk membentuk tubuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar