ASUHAN
KEPERAWATAN
IBU HAMIL DENGAN
ANEMIA

Disusun oleh :
DEA FERDRINA
PRODI D III
KEPERAWATAN
POLITEKNIK
KESEHATAN BHAKTI MULIA
TAHUN AKADEMIK
2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Masa kehamilan merupakan masa dimana tubuh sangat membutuhkan asupan makan
yang maksimal baik untuk jasmani maupun rohani (selalu rileks dan tidak
stress). Di masa-masa ini pula, wanita hamil sangat rentan terhadap menurunnya
kemampuan tubuh untuk bekerja secara maksimal. Wanita hamil biasanya sering
mengeluh sering letih, kepala pusing, sesak nafas, wajah pucat dan berbagai
macam keluhan lainnya. Semua keluhan tersebut mengindikasikan bahwa wanita
hamil tersebut sedang menderita anemia pada masa kehamilan.
Penyakit ini terjaid akibat rendahnya kandungan Hb dalam tubuh semasa
mengandung. Anemia ini secara sederhana dapat kita artikan dengan kurangnya
sel-sel darah merah di dalam darah daripada biasanya.
Anemia pada kehamilan di Indonesia masih tinggi, dengan angka nasional
65% yang setiap daerah mempunyai variasi berbeda. Anemia gangguan medis yang
paling umum ditemui pada msa hamil, mempengaruhi sekurang-kurangnya 20% wanit
hamil. Wanita ini memiliki insiden komplikasi puerperal yang lebih tinggi,
seperti infeksi, daripada wanita hamil dengan nilai hematologi normal.
Anemia menyebabkan penurunan kapasitas darahuntuk membawa oksigen.
Jantung berupaya mengonpensasi kondisi ini dengan meningkatkan curah jantung
dan menekan fungsi ventricular. Dengan demikian, anemia yang menyertai
komplikasi lain (misalnya preeklamsi) dapat mengakibatkan jantung kongestif.
Apabila seorang wanita mengalami anemia selama hamil, kehilangan darah
pada saat ia melahirkan, bahkan kalaupun minimal, tidak ditoleransi dengan
baik. Ia beresiko membutuhkan tranfusi darah. Sekitar 80% kasus anemia pada
masa hamil merupakan tipe anemia defisiensi besi, sisanya mancakup kasus anemia
herediter dan berbagai variasi anemia didapat, termasuk anemia defisiensi asam
folat, anemia sel sabit dan talasemia.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mengetahui bagaimana cara mengatasi ibu hamil dengan
anemia selama kehamilan.
2. Tujuan khusus
ü Mengetahui apa itu
anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui
klasifikasi anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui
penyebab anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui tanda
dan gejala anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui
patofisiologi anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui komplikasi
anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui
pemeriksaan diagnostic anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui
penatalaksanaan anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui fokus
pengkajian anemia dalam kehamilan
ü Mengetahui fokus
intervensi anemia dalam kehamilan
C. MANFAAT
1. Menyelesaikan
tugas dari Ibu Tutik Rahayu
2. Menambah ilmu
pengetahuan mengenai anemia dlaam kehamilan
3. Memberi manfaat
bagi tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan kepada pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar
haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002)
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu
dengan kadar Hb < 11,00 gr % pada trimester 1 dan III, atau kadar Hb <
10,50 gr % pada trimester II (Sarwono, 2008)
Anemia pranatal adalah komplikasi yang
paling sering terjadi di amerika serikat yang memengaruhi 20-50% ibu hamil.
Anemia ditandai dengan penurunan jumlah sel darah merah dan konsentrasi Hb di
bawah normal. Kondisi ini menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk
mengangkut oksigen ke organ vital ibu dan janin. Selama kehamilan, anemia
meningkatkan resiko kehamilan kurang bulan. Anemia dapat meningkatkan
mortalitas ibu dengan menurunkan toleransi ibu terhadap hemoragi. Penyakit ini
juga meningkatkan komplikasi puerperal (mis., menghambat penyembuhan episiotomi
atau insisi), serta mengurangi
persediaan zat besi untuk cadangan
janin. (Wilkinson, 2008)
B. KLASIFIKASI
1.
Anemia defisiensi besi (62,3 %)
Anemia jenis ini biasanya terbentuk
normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai penyebabnya seperti
anemia pada umumnya.
Pengobatan : Keperluan zat besi untuk
non-hamil,hamil,dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah:
·
FNB Amerika Serikat (1958 : 12mg-15mg-15mg.
·
LIPI Indonesia (1968 : 12mg-17mg-17mg.
Kemasan zat besi dapat di berikan per oral atau parenteral.
·
Per oral: sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan
dosis 3-5 x 0,20 mg.
·
Perenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan
pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik,kemasan di
berikan secara intramuskuler atau intravena.kemasan ini antara lain:
imferon,jectofer,dan ferrigen.hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.
2. Anemia megaloblastik ( 29,0%)
Anemia megaloblastik biasanya berbentuk
makrositik atau pernisiosa.penyebabnya adalah karena kekurangan asam
folik,jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. Biasanya karena
malnutrisi dan infeksi yang kronik.
Pengobatan:
·
Asam folik 15-30 mg per hari
·
Vitamin B12 3 x 1 tablet per hari
·
Sulfas ferosus 3 x 1 tablet per hari
·
Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya
lamban sehingga dapat diberikan tranfusi darah.
3. Anemia hipoplastik ( 8,0%)
Anemia hipoplasti disebabkan oleh
hipofungsi sumsum tulang ,membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk diagnosis
diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan:
·
Darah tepi lengkap
·
Pemeriksaan pungsi sternal
·
Pemeriksaan retikulosit dan lain-lain.
Gambaran darah tepi: normositik dan normokromik. Sumsum tulang
memberikan gambaran normoblastik dan hipoplasia eritropoiesis. Penyebabnya
belum diketahui, kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat atau sepsis,
keracunan, dan sinar rontgen atau sinar radiasi. Terapi dengan obat-obatan
tidak memuaskan; mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah, yang
perlu sering diulang.
4. Anemia hemolitik ( 0,7%)
Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan
sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Ini dapat disebabkan oleh:
a) Faktor intrakorpuskuler: dijumpai pada
anemia hemolilik herediter; talasemia; anemia sel sickle atau sabit;
hemoglobinopati C, D, G, H, I; dan paraksismal nokturnal hemoglobinuria.
b) Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan
malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan dapat beserta obat-obatan; leukemia
,penyakit hodgkin , dan lain-lain.
Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran
darah,keletihan, kelemahan serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada
organ-organ vital.
Pengobatan tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya.
Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan
obat-obatan penambah darah. Namun, pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini
tidak memberi hasil. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita
ini.
(Rustam, 1998)
C.
ETIOLOGI
1.
Asupan zat besi
yang tidak adekuat adalah penyebab anemia pranatal paling umum. Pada kehamilan,
penambahan zat besi dibutuhkan akibat peningkatan produksi sel darah merah ibu
dan janin. Saat trimester ketiga janin menyimpan zat besi untuk digunakan
selama 4-6 minggu pertama kehidupan. Ibu dan janin tersebut membutuhkan zat
besi dalam diet hampir dua kali lipat dari kebutuhan ibu hamil. RDA (recommended
daily allowance) untuk zat besi selama kehamilan adalah 30 mg/hari; akan
tetapi, kebanyakan zat besi yang diperoleh dari diet biasa adalah 15-18
mg/hari.
2.
Anemia
Defisisensi Asam folat (anemia megaloblastik) terjadi pada sekitar 1% - 4% ibu
hamil di amerika serikat. Kebutuhan asam folat meningkat selama kehamilan
akibat multiplikasi sel yang cepat, peningkatan ekskresi asam folat dalam urine
dan kebutuhan janin. Jika ibu di diagnosis mengalami defisiensi asam folat, kemungkinan
besar ia juga akan mengalami defisiensi zat besi.
3.
Anemia yang
disebabkan genetik (mis., anemia sel sabit, talasemia) juga dapat timbul pada
ibu hamil.
4.
Merokok ,
tinggal di tempat yang sangat tinggi, dan kehamilan remaja semuanya
meningkatkan resiko perkembangan anemia pranatal karena kondisi tersebut
meningkatkan kuantitas sel darah merah yang dibutuhkan tubuh.
(Wilkinson,
2008)
D.
MANIFESTASI
KLINIS
1.
Subjektif:
keletihan, penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik, anoreksia, kelemahan, malaise,
dispnea, gatal-gatal.
2.
Objektif:
pucat, edema, inflamasi pada bibir dan lidah
(Wilkinson,
2008)
E.
PATOFISIOLOGI
Perubahan hematologi
sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang semakin
meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat
45-65 % dimulai pada trimester II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan
ke-9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterm serta
kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume
plasma seperti laktogen plasma, yang menyebabkan peningkatan sekresi
aldesteron.
(Yeyeh, 2011)
F.
KOMPLIKASI
1.
Infeksi dan
penyembuhan luka yang terhambat
2.
Hipertensi yang
diinduksi Oleh kehamilan
(Wilkinson,
2008)
G.
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
1.
Hb: kurang dari
11g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada
trimester kedua.
2.
Ht: kurang dari
35% pada trimester pertama, kurang dari 30% pada trimester kedua, dan kurang dari 34% pada trimester
ketiga.
3.
Indeks Sel Darah
Merah: sel mikrositik dan hipokromik untuk anemia defisiensi zat besi, dan sel
megaloblastik untuk defisiensi asam folat.
(Wilkinson,
2008)
H.
PENATALAKSANAAN
1.
Medis
a.
Suplemen fero
sulfat atau glukonat oral (defisisensi zat besi)
b.
Suplemen asam
folat oral (defisiensi zat besi)
c.
Diet makanan
kaya zat besi dan asam folat
2.
Keperawatan
a.
Observasi adanya
komplikasi anemia
b.
Berikan
penyuluhan tentang diet
c.
Berikan
penyuluhan mengenai obat yang di programkan (mis., zat besi, asam folat)
(Wilkinson,
2008)
I.
FOKUS PENGKAJIAN
1.
Kaji pernapasan
(takipnea)
Rasional:
pernapasan dapat meningkat akibat penurunan kapasitas darah untuk mengangkut
oksigen.
2.
Ukur suhu (38
derajat celcius)
Rasional:
demam adalah tanda sebagian besar infeksi. Demam merupakan respon pertahanan inang adaptif yang disebabkan
oleh efek pirogen pada hipotalamus, yang mengakibatkan hipotalamus mengatur
suhu tubuh pada tingkat yang lebih tinggi dari suhu normal.
3.
Hitung nadi
(takikardi)
Rasional:
pada saat demam, vasodilatasi perifer terjadi sebagai upaya adaptif untuk mendinginkan
tubuh. Vasodilatasi menurunkan TD, dan tubuh berusaha untuk beradaptasi dengan
meningkatkan nadi. Demam juga meningkatkan laju metabolisme: yang meningkatkan
nadi.
4.
Kaji luka, jika
ada (merah dan hangat saat disentuh, drainase, edema)
Rasional:
gejala klasik ini ditimbulkan oleh respon tubuh yang adaptif terhadap
inflamasi. Gejala yang timbul disebabkan
oleh perubahan vaskuler dan eksudat.pembengkakan terjadi ketika eksudat
terakumulasi dan juga akibat adanya prostaglandin dan bradikinin. Kemerahan dan
rasa hangat disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke area tersebut.
5.
Kaji nyeri
Rasional:
gejala infeksi yang dapat disebabkan oleh edema atau kerusakan jaringan.
6.
Kaji malaise
Rasional:
infeksi menyebabkan keletihan akibat demam, peningkatan respon imun, dan
edoeksotosin dari organisme patogen.
7.
Kaji data
laboratorium untuk mengetahui adanya infeksi
Rasional:
leukosit > 14.000 pada trimester pertama, > 17.000 pada trimester kedua,
> 14.700 pada trimester ketiga. Tubuh berespon terhadap kemunculan patogen
dengan meningkatkan jumlah dan jenis sel darah putih dalam sirkulasi
(Wilkinson, 2008)
J. FOKUS INTERVENSI
1. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan :
kebutuhan nutrisi tercukupi
Kriteria hasil :
a. Menoleransi asupan zat besi yang dianjurkan
b. Melaporkan tingkat energi yang adekuat
c. Memiliki nilai laboratorium dalam batas normal (Ht
>35% pada trimester pertama, >30% pada trimester kedua, dan >34% pada
trimester ketiga. Hb > 11g/dl pada trimester pertama dan ketiga, namun
<10,5 g/dl pada trimester kedua.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan mengenai makanan kaya zat besi dan
jumlah yang dibutuhkan untuk kehamilan yang sehat.
Rasional:
menentukan kebutuhan pembelajaran yang spesifik.
b. Pantau pengkajian tingkat energi degan menggunakan
tingkat skala 1 (tidak mampu menyelesaikan tugas sederhana) hingga 5 (aktif,
mampu mempertahankan aktivitas normal tanpa keletihan.
Rasional: kadar
zat besi yang rendah menyebabkan keletihan; ketika kadar zat besi meningkat,
tingkat keletihan mungkin berkurang.
c.
Anjurkan untuk
menyertakan daging tanpa lemak dalam diet, atau mengombinasikan makanan tanpa
daging dengan makanan yang kaya vitamin
Rasional:
absorpsi zat besi lebih tinggi untuk produk hewan daripada sayuran. Absorpsi
dari sumber bukan daging meningkat dengan mengkonsumsi vitamin
d.
Sarankan untuk
memasukkan sayuran berdaun hijau tua, telur, dan gandum utuh serta roti kaya
gizi dan sereal dalam diet; juga sertakan buah-buahan yang dikeringkan,
polong-polongan, kerang, serta sirup gula.
Rasional: semua
makanan ini merupakan sumber zat besi yang baik.
e. Lakukan konsultasi dengan ahli diet guna menetapkan
tingkat asupan zat besi yang tepat untuk kebutuhan ibu yang spesifik dan ubah
secara terus menerus makanan kaya zat besi sesuai pilihan individu/budaya.
Rasional :
membantu merencanakan asupan zat besi
yang tepat. Jumlah zat besi yang dibutuhkan bergantung pada usia ibu dan
asupan zat besi sebelumnya. Seorang ahli diet mampu menentukan kebutuhan
spesifik pada ibu tertentu dan mempertimbangkan pilihan makanan sesuai individu
dan budaya pada saat merencanakan diet.
2. Konstipasi
berhubungan dengan ingesti suplemen zat besi
Tujuan :
konstipasi teratasi
Kriteria hasil :
a. Fungsi usus
berfungsi normal
Intervensi :
a. Jelaskan bahwa kehamilan meningkatkan risiko
konstipasi, dan bahwa obat oral yang mengandung zat besi meningkatkan resiko
lebih lanjut.
Rasional:
membantu ibu memahami pentingnya tindakan preventif, seperti diet, cairan, dan
latihan fisik.
b. Observasi warna
feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah
Rasional: mengetahui penyebab pemberat dan intervensi
yang tepat
c. Auskultasi bunyi
usus
Rasional: bunyi usus meningkat pada diare dan menurun
pada konstipasi
d. Awasi masukan
dan haluaran dengan perhatian khusus pada makanan dan cairan
Rasional: mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan
berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi
e. Kolaborasi
dengan dokter pemberian obat anti diare misalnya difenoxsilat hidroklorida
Rasional: menurunkan multilitas usus bila diare
terjadi
3. Kurangnya pengetahuan
berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai efek samping suplemen zat besi.
Tujuan :
pengetahuan pasien baik
Kriteria hasil :
a. Mengetahui efek
samping suplemen zat besi
b. Mengetahui obat
yang benar
c. Menyimpan
suplemen zat besi dengan benar
Intervensi :
a. Jelaskan mengenai tujuan dan kerja zat besi,
perannya dalam keshatan ibu dan janin, serta kesulitan untuk memperoleh jumlah
yang adekuat dalam diet selama kehamilan.
Rasional:
membantu meningkatkan kepatuhan. Karena zat besi dapat mengiritasi saluran
cerna dan dapat menyebabkan konstipasi, ibu mungkin melewatkan dosisnya.
b. Jelaskan mengenai pemberian zat besi yang benar
Rasional: waktu
yang tepat dalm pemberian zat besi akan membatu memastikan absorpsi yang tepat.
Jika ditoleransi, zat besi harus di minum ketika perut koong. Akan teapi, jika
mual muncul, zat besi dapat diminum bersam makanan dan dalam dosis lebih kecil
yang dibagi untuk sepanjang hari. Teh dan kopi mengurngi absorpsi zat besi dan
harus di hindari. Jangan mengonsumsi zat besi
satu jam setelah minum susu atau produk susu karena zat besi berikatan
dengan kalsium dan tidak dapat diabsorpsi dengan baik.
c. Anjurkan untuk mengkonsumsi zat besi dengan dengan
cairan yang kaya vitamiin c.
Rasional: vitamin
c meningkatkan absorpsi zat besi.
d. Sarankan untuk mengonsumsi zat besi bersama makanan
bila ibu merasa mual akibat obat.
Rasional: makanan
mengurangi mual yang disebabkan oleh zat besi.
e. Jelaskan bahwa suplemen zat besi dapat menyebabkan
konstipasi.
Rasional:
memungkinkan ibu melakukan tindakan
preventif (mis., meningkatkan asupan cairan dan serat)
f. Anjurkan untuk menyimpan obat-obatan zat besi di
luar jangkauan anak-anak.
Rasional:
mencegah keracunan pada anak-anak.
g. Anjuerkan untuk memasak dengan peralatan dari besi.
Rasional:
sejumlah kecil zat besi akan terlepas ke dalam makanan.
(Wilkinson, 2008)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu
dengan kadar Hb < 11,00 gr % pada trimester 1 dan III, atau kadar Hb <
10,50 gr % pada trimester II.
Anemia
dalam kehamilan dibagi menjadi 4, yaitu :
1. Anemia defisiensi besi
2. Anemia megaloblastik
3. Anemia hipoplastik
4. Anemia hemolitik
B.
SARAN
1. Bagi ibu hamil
disarankan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi.
2. Bagi tenaga
kesehatan diharapkan memberikan penyuluhan kepada calon ibu dan ibu hamil untuk
selalu memperhatikan kesehatannya dan bayi.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Wilkinson Judith M & Green Carol J : Rencana Asuhan Keperawatan Maternal &
Bayi Baru Lahir. Jakarta : EGC ; 2012
2.
Mochtar Rustam : Sinopsis
Obstetri Jilid 1. Jakarta : EGC ; 1998
3.
Rukiyah Ai Yeyeh & Yulianti Lia : Asuhan Kebidanan IV(patologi kebidanan).
Jakarta : Trans Info Media ; 2011
4.
Prawirohardjo Sarwono : Ilmu Kebidanan .Jakarta : Yayasan Bina Pusaka ; 2008
5.
Winkyosastro : Ilmu
Kebidanan. Jakarta : YBP-SP ; 2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar