ASUHAN KEPERAWATAN
PADA IBU HAMIL DENGAN KETUBAN PECAH DINI
Oleh:
PRODI DIII KEPERAWATAN BHAKTI MULIA
2014
KETUBAN PECAH DINI
A. PENGERTIAN
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum
terdapat tanda mulai persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu.
Ketuban pecah dini merupakan pecahnya selaput janin sebelum proses persalinan
dimulai. (Manuaba, 1998)
1. KPD saat preterm (KPDP) adalah KPD
pada usia <37 minggu
2. KPD memanjang merupakan KPD selama
>24 jam yang berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi intra-amnion
Ketuban
dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh
kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan adanya infeksi
yang dapat berasal dari vagina serviks. (Prawirohardjo, 2002)
Ketuban
pecah dini atau sponkaneous/ early/ premature rupture of the
membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebsalum partu : yaitu bila
pembukaan pada primigravida dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm.
(Mochtar, 1998).
B. ETIOLOGI
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor
tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang
dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan
masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :
1.
Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia
serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher
rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka
ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin
besar. Adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan
laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan
kongenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa
perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal
trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta
keluarnya hasil konsepsi. (Manuaba, 2002).
2. Peninggian
tekanan intra uterin
Tekanan
intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a. Trauma
: Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b. Gemelli
Kehamilan
kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli
terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan
rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim
yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan
dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban
tipis dan mudah pecah. (Saifudin. 2002)
c. Makrosomia
Makrosomia
adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia
menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan
tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban,
manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane
menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro,
2006)
d. Hidramnion
Hidramnion
atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat
mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah
peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion
akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi
nyata dalam waktu beberapa hari saja.
3.
Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4. Kemungkinan
kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo pelvic
disproporsi).
5. Korioamnionitis
Adalah
infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina
ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnya selaput ketuban
> 24 jam dan persalinan lama.
6.
Penyakit Infeksi
Adalah
penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan infeksi
selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkan terjadinya proses biomekanik
pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban
pecah.
7. Faktor
keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik)
8. Riwayat
KPD sebelumya
9. Kelainan
atau kerusakan selaput ketuban
10. Serviks
(leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
C. MANIFESTASI
KLINIK
Menurut
Mansjoer ( 2000) Achadiat (2004) manifestasi ketuban pecah dini adalah:
1. Keluar air krtuban warna keruh.
Jernih,kuning, hijau, atau kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak
2. Dapat disertai demam bila sudah
terjadi infeksi
3. Janin mudah diraba
4. Pada pemeriksaan dalam selaput
ketuban sudah tiadak ada, air ketuban sidah kering
5. Inspekulo: tampak air ketuban
mengalir atau selaput keruban tidak ada dan air ketuban sudah kering
6. Usia kehamilan vible (>20
minggu)
7. Bunyi jantung bisa tetap normal
D. PATOFISIOLOGI
Banyak teori, mulai dari defect kromosom kelainan
kolagen, sampai infeksi. Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan
infeksi (sampai 65%)
High virulensi : Bacteroides ; Low virulensi :
Lactobacillus
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion,
fibroblast, jaringa retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi
jaringan kolagen dikontrol oleh system aktifitas dan inhibisi interleukin -1
(iL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan
aktifitas iL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga
terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion, menyebabkan ketuban
tipis, lemah dan mudah pecah spontan. (Taylor, 2006)
E.
KOMPLIKASI
1. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput
ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa
menyebabkan terjadinya KPD.
2. Partus peterm
Persalinan preterm atau partus
prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (
antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (
Manuaba, 1998)
3. Prolaps Tali pusat
Tali pusat menumbung
4. Distasia ( partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama
akan menyebabkan dry labour atau persalinan kering
5. Ketuban
pecah dini merupakan penyebab pentingnya persalinan premature dan prematuritas
janin.
6. Resiko
terjadinya ascending infection akan lebih tinggi jika persalinan dilakukan
setelah 24 jam onset
7. Hipoplasia
pulmonal janin sangat mengancam janin, khususnya pada kasus oligohidramnion
F. PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang menurut Achadiat (2004) adalah:
1. Pemeriksaan leukosit/WBC, bila
>15.000/ml kemungkinan telah terjadi infeksi
2. Ultrasonografi (USG) sangat
membantu dalam menentukan usia kehamilan, letak atau persentasi janin, berat
janin, letak dan gradasi plasenta serta jumlah air ketuban.
3. Monitor DJJ dengan
fetoskoplaennec atau Doppler atau dengan melakikan pemeriksaan atau
kardiotokografi ( bila usia kehamial >32 mmingu).
4. Memeriksa adanya cairan yang
berisi mekonium, verniks kassceosa, rambut lanugo/ telah terinfeksi atau berbau
5.
Inspekulo: lihat dan oerhatikan apakah memang air ketuban keluar dari
kanalis servik dan apakah ada bagian yang sudah pecah
6. Gunakan kertas lakmus
Bila menjadi biru (basa): air ketuban
Bila menjadi merah(asam): air kemih (urine)
7. Pemeriksaan PH forniks posterior
pada prom PH adalah basa air ketuban
8. Pemeriksaan histopatologi air
(ketuban)
9. Aborization dan sitologi air
ketuban
G. PENANGANAN MEDIS
1.
Pada kehamilan preterm berupa penanganan konservatif, antara lain :
a.
Rawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu
dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan
diusahakan bisa mencapai 37 minggu
b.
Berikan antibiotika (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila tidak tahan ampisilin)
dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari
c.
Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air ketuban masih keluar,
atau sampai air ketuban tidak keluar lagi
d.
Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap
minggu. Sedian terdiri atas betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2
hari atau deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali
e.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa
(-): beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin.
Terminasi pada kehamilan 37 minggu
f.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam
g.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan
induksi
h.
Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin)
2. Pada
kehamilan aterm berupa penanganan aktif, antara lain:
a.
Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesaria.
Dapat pula diberikan misoprostol 50 µg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
b.
Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan
di akhiri:
1) Bila skor
pelvik < 5 lakukan pematangan serviks kemudian induksi. Jika tidak berhasil
akhiri persalinan dengan seksio sesaria.
2) Bila skor
pelvik > 5 induksi persalinan, partus pervaginam.
H. FOKUS PENGKAJIAN
1. Biodata klien
Berisi tentang :Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No.
Medical Record, NamaSuami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan ,Suku, Agama, Alamat,
Tanggal Pengkajian.
2. Keluhan utama :
Keluar cairan
warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak, pada
periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering, inspeksikula
tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah
kering
3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal
partus
4. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah
atau tidak, atau tidak direstui dengan orang tua ?
5. Riwayat Obstetris
Berapa kali
dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine, keluhan
selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi
keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
6. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita
pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani nya, dimana mendapat
pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh
berulang – ulang
7. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara
genetic seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit
menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh
keluarga.
8. Kebiasaan sehari –hari
a) Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu
makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan.
b) Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah
pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah mudah terganggu
dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
c) Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah
inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin),hilangnya kontrol blas,
terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa takut
luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi,
konsistensi,rasa takut BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d) Personal Hygiene : Pola mandi,
kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia,
pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah.
e) Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan KPD di
anjurkan untuk bedresh total.
f) Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.
9. Pemeriksaan
Fisik
a) Pemeriksaan umum: suhu normal
kecuali disertai infeksi.
b) Pemeriksaan
abdomen: uterus lunak dan tidak nyeri tekan. Tinggi fundus harus diukur dan
dibandingkan dengan tinggi yang diharapkan menurut hari haid terakhir. Palpasi
abdomen memberikan perkiraan ukuran janin dan presentasi maupun cakapnya bagian
presentasi. Denyut jantung normal.
c) Pemeriksaan
pelvis: pemeriksaan speculum steril pertama kali dilakukan untuk memeriksa
adanya cairan amnion dalam vagina. Karna cairan alkali amnion mengubah pH asam
normal vagina, kertas nitrasin dapat dipakai untuk mengukur pH vagina. Kertas
nitrasin menjadi biru bila ada cairan alkali amnion. Bila diagnose tidak pasti
adanya skuama anukleat, lanugo, atau bentuk Kristal daun pakis cairan amnion
kering dapat membantu.
d) Pemeriksaan
vagina steril: menentukan penipisan dan dilatasi serviks. Pemeriksaan vagina
juga mengidentivikasi bagian presentasi dan stasi bagian presentasi dan
menyingkirkan kemungkinan prolaps tali pusat.
10.Pemeriksaan
penunjang
a) Pemeriksaan
laboraturium
Cairan yang
keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan
yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret
vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah
warna, tetap kuning.
b) Tes Lakmus
(tes Nitrazin)
Jika krtas
lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH
air ketuban 7 – 7,5, darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang
positif palsu.
c) Mikroskopik
(tes pakis)
Dengan
meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan
mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
d) Pemeriksaan
ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan
ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada
kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi
kesalahn pada penderita oligohidromnion.
I. FOKUS
INTERVENSI
1. Nyeri
akut b/d peredaran karakteristik kontraksi
Tujuan:
a)
Pasien menunjukkan ekspresi wajah rileks
b)
Pasien tidak mengeluh kesakitan
c)
Pasien menyatakan nyerinya berkurang
Intervensi :
1) Kaji
keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-5), frekuensi, dan waktu.
Menandai
gejala nonverbal. Misalnya: gelisah, takikardia, dan meringis.
2) Dorong pengungkapan perasaan
3) Berikan
aktivitas hiburan, misalnya: membaca, berkunjung, dan lain-lain.
4) Lakukan
tindakan paliatif, misalkan: pengubahan posisi, massase, rentang gerak pada
sendi yang sakit.
5) Intruksikan
pasien/dorong untuk menggunakan visualisasi/bimbingan imajinasi, relaksasi
progresif, teknik nafas dalam.
2. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan tirah baring
Tujuan :
a) Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menurunkan toleransi aktifitas
b) Memperlihatkan kamajuan (ketingkat
yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin)
c) Memperlihatkan
penurunan tanda-tanda hipoksia terhadap aktifitas (nadi, tekanan darah,
pernapasan)
Intervensi :
1) Kaji respon individu terhadap
aktivitas
2)
Meningkatkan aktivitas secara bertahap
3)
Ajarkan klien metode penghematan energi untuk aktivitas.
4
Instruksikan klien untuk konsulasi kepada dokter atau ahli terapi fisik untuk
program latihan jangka panjang.
5)
Rujuk kepada perawat komunitas untuk tindak lanjut jika diperlukan.
3. Kurang
pengetahuan mengenai prosedur b/d kurang informasi
Tujuan:
a)
Menggungkapkan pengetahuan tentang prosedur/situasi
b)
Berpartisipasi dalam prosedur pembuatan ketuban
Intervensi :
Intervensi :
1)
Tinjauan ulang ketuban terhadap induksi/augmentasi persallin
2)
Jelaskan prosedur yang akan dirasakan klien,kontraksi dan DJJ adan dipantau
secara kontinus
3) Tinjau prosedur secara amniotomi
4)
Demontrasikan dan jelaskan penggunaan peralatatan
4. Ketakutan/ansietas b/d kondisi janin
yang menurun
Tujuan :
a) Gangguan
sistem dukungan secara efektif
b) Menyelesaikan
persalinan dengan sukses
Intervensi :
1)
Kaji status psikologi dan emosi
2)
Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan
3)
Gunakan berminologi positif, hindari penggunaan istilah yang menendakan
abnormalitas prosedur atau proses
4)
Anjurkan penggunaan/tehnik pernafasan
5)
Nyeri perabaan/perbedaan yang diantisipasi dalam pola persalinan dan kontrasi
6)
Tinjau ulang atau berikan instruksi tehnik pernafasan sederhana
7)
Anjurkan klien untuk menggunakan tehnik relaksasi
5. Resiko
tinggi infeksi b/d rembesan cairan ketuban
Tujuan :
a) Bebas dari proses infeksi nosokomial
selama perawatan di rumah sakit
b) Memperlihatkan
kemampuan tentang faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi dan
melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi
Intervensi :
1)
Identifikasi individu yang berisiko terhadap infeksi nosokomial
2)
Kurangi organisme-organisme yang masuk ke dalam tubuh
3)
Lindungi individu yang defisit imun dari infeksi
4)
Kurangi kerentanan individu terhadap infeksi
5)
Amati terhadap manifestasi klinik infeksi (mis; demam, urine keruh, drainase
purulen)
6)
Instruksikan individu dan keluarga mengenal penyebab, risiko-risiko dan
kekuatan penularan infeksi.
7)
Laporkan penyakit-penyakit menular.
DAFTAR PUSTAKA
Nita Norma dan Mustika Dwi S.2013.Asuhan Kebidanan Patologi.Yogyakarta :
Nuha Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar